
Mohon tulisan ini jangan dianggap kampanye. Saya menulis berdasarkan pemikiran saya sebagai orang awam soal politik. Saya adalah pedagang, pelaku bisnis di pasar. Jadi, mohon maaf kalau tulisan ini rada ngaco.
Terus-terang, sejak pencalonannya menjadi capres, saya mulai memperhatikan sepak terjang Jusuf Kalla. Yang paling menarik, menancap di benak saya dan menjadi ikon adalah ketika ia mencopot sepatunya di hadapan penonton sebuah acara di televisi. Wow, ini orang asyik juga, batin saya. Saya jadi teringat dengan BJ. Habibie, yang gayanya juga kurang lebih sama, blak-blakan, apa adanya.
Saya pun mengikuti perkembangan terkini melalui liputan media dan survei-survei. Perlahan namun pasti, angka elektabilitasnya terus menanjak, meski pun masih jauh di bawah SBY. Ini pertanda apa?
Tadi malam adalah puncaknya. Debat final capres yang disiarkan langsung oleh RCTI. JK mendapat poin tertinggi oleh para akademisi UI. Ia mampu menjawab pertanyaan secara logis dan taktis, bahasa tubuhnya pun enak dilihat, sesekali ia memecah ketegangan dengan guyonan khasnya. Over all, tadi malam adalah milik JK, meski pun SBY juga tidak kalah.
SBY sendiri menjawab dengan sangat runut, sistimatis, logis dan komprehensif. Patut diacungi jempol. Kelihatan dia begitu menguasai materi. Tidak seperti Megawati yang jawabannya sering normatif apologetik dan mengawang-awang. Tapi JK menjawab lebih taktis, to the point.
Saya pun menyimpulkan bahwa SBY ini adalah orang yang bertipe otak kiri yang logis dan sistimatis. Sedangkan JK adalah kebalikannya, yaitu otak kanan, yang kreatif, imajinatif, berpikir dan bertindak out of the box dan tanpa terduga.
Saya suka orang yang tipe otak kanan seperti ini. Asyik. Saya suka hal-hal baru, tantangan baru, ketidakpastian. Itu adalah ciri yang melekat pada wirausahawan. Dan itu dimiliki oleh JK. Sebenarnya, kombinasi keduanya sudah tepat, kiri dan kanan. Tapi, orang bertipe otak kanan biasanya tidak cocok menjadi nomor dua. Mungkin, itulah sebabnya mengapa SBY tidak berkenan lagi berpasangan dengan JK.
Lompatan-lompatan kuantum biasanya dilakukan oleh orang yang cenderung berotak kanan. Baginya tidak ada yang tidak mungkin. Pencapaian eksponensial banyak dilakukan oleh orang berotak kanan ketimbang otak kiri.
Memperhatikan gayanya JK, saya merasa bertemu dengan sosok para pedagang di pasar-pasar yang gayanya informal, egaliter tapi berpikir cerdik dan lincah bertindak. Ini gue banget!, kata anak muda sekarang.
Salah satu ilmu dari Anthony Robbins yang masih teringat sampai sekarang adalah tentang mirroring. Orang cenderung suka dengan orang lain yang tingkah laku dan cara berpikirnya mirip dengannya. Cobalah perhatikan 2 anak kecil yang belum saling kenal. Ketika yang satu mulai mengikuti dan meniru apa yang dilakukan oleh yang satunya lagi, serta merta mereka cepat menjadi akrab berteman. Itulah yang terjadi dengan saya saat melihat figur JK.
Demikian juga istri saya. Ketika melintasi jalan ia melihat billboard gambar JK - Wiranto bersama istri-istri mereka. "Ely suka pasangan yang mana?", tanya saya penasaran. "Yang ini sih, kayaknya enak dilihat, adem". Mekanisme mirroring juga terjadi pada istri saya. Ia terpikat oleh istri-istri JK Wiranto yang berjilbab.
Terlepas dari analisa macam-macam yang negatif terhadap pasangan ini, saya tidak akan berkomentar. Bukan kapasitas saya menilai itu. Saya hanya menilai berdasarkan "kelekatan" saya dengan pasangan ini, seperti yang diungkap oleh Chip Heat dan Dan Heat dalam buku best seller Made To Stick.
Selamat menentukan pilihan. Kalau perlu shalat istikhoroh dulu. JK atau SBY, dua-duanya sama baiknya. Siapa pun pemenangnya akan saya dukung.
Salam FUUUNtastic! Sukses Mulia
Roni, Owner Manet Busana Muslim
Read more »