| Ayo Bakar Jembatan! - Buku TDA Ngalam |
| Rabu, 09 Juli 2008 01:37 | |
|
Ini adalah buku yang saya edit dari percakapan rekan-rekan TDA saya. Saya edit dan saya jadikan buku. Insyaallah bila tidak ada halangan akan dilaunching nanti pas acara Milad (Ulang Tahun) ke-1 TDA Ngalam . Masih ada kesempatan untuk daftar ikut acara asyik ini. Bisa call saya atau ke sini . Ini adalah cuplikan kata pengantar dalam buku itu : “Ssst.. ini adalah obrolan para pengusaha. Sesuatu yang sering ingin kita dengar walau sembunyi-sembunyi…” “Oh,
no! buku apa ini? Ehm, ini adalah ‘rekaman percakapan’ para pengusaha
yang terjadi saat mereka kumpul -kumpul di tengah-tengah kesibukan
mengurus bisnisnya masing-masing. Ibarat tubuh, komunitas TDA ini bisa terus hidup bahkan terus bertambah sehat karena peredaran darah yang mengalir lancar dan alami karena dia mendapat asupan oksigen dari nafasnya yaitu kegiatan pertemuan kelompok kecil-kecil yang diberi istilah Mastermind. Kelompok Mastermind biasanya bertemu secara berkala untuk saling tukar pendapat, tukar ilmu atau mencari solusi dari permasalahan yang ada. Budaya seperti ini rupanya terbukti telah menjadi kebiasaan para jaringan pengusaha kelas dunia dan mereka pasti tidak akan melakukannya bila hal ini tidak bermanfaat. Bahkan seorang motivator kelas nasional, Tung Desem Waringin akan lebih memilih menghadiri acara mastermindnya daripada jadwal presentasinya. Sebenarnya kelompok seperti TDA ini banyak. Banyak sekali, sebanyak profesi yang ada di dunia, mulai persatuan tukang parkir sampai perhimpunan para kepala negara. Seseorang bisa saja menjadi anggota di lebih dari satu atau sepuluh kelompok karena dia mungkin mempunyai multi profesi atau status, sah-sah saja, tapi bagaimanapun sebuah ilmu yang baik haruslah disebarkan. Saya melihat dalam kelompok saya ini, TDA Ngalam, apa yang mereka perbincangkan, diskusikan dan perdebatkan adalah ilmu yang bermanfaat bagi sesama, maka tak ada ruginya jika kemudian saya meminta ijin kepada teman-teman saya untuk sekedar mengarsipkan dan menuliskan sebagian ‘rekaman obrolan’ ini disini. Semata-mata demi menjadi ‘penebar rahmat’ dan menjadi tabungan untuk kehidupan akherat kelak, amin. Kebetulan yang tergabung pada TDA Ngalam di tahun 2008 ini berjumlah sekitar 30-an orang namun tidak semuanya aktif, artinya aktif dalam kelompok TDA, mungkin mereka masih sibuk dengan urusan profesinya masing-masing sehingga tidak begitu mempunyai ‘catatan percakapan’ dalam buku ini. Meskipun bernama TDA, namun komunitas ini juga welcome kepada mereka yang masih berprofesi sebagai karyawan atau pegawai, diistilahkan dengan TDB alias Tangan Di Bawah, atau ada pula yang jadi karyawan tapi nyambi buka usaha atau sebaliknya, diistilahkan Amphibi. Justru dengan welcome inilah para TDA berusaha menyebarkan virus ‘enterpreneur’ kepada para TDB, membantu, mensupport, kadang ‘mengerjai’ mereka supaya segera menjadi TDA, tanpa bermaksud melecehkan. Gesekan-gesekan yang terjadi disikapi dengan dikembalikan kepada kebebasan masing-masing individu untuk memilih tindakan dan keputusan tanpa sakit hati, no offense. Memang itulah pelajaran berharga yang tidak akan didapatkan di bangku sekolah manapun kecuali dengan berkumpul dalam komunitas seperti ini. Ialah pelajaran mengasah etika, insting, emosi dan spirit yang ternyata dalam berbisnis terbukti lebih bervalue ketimbang kemampuan kognitif akademis. Sejak awal mereka tidak bermaksud membukukan ‘obrolan’ ini, ini semata-mata ide saya pribadi, karena itu jangan heran bila dalam skrip yang Anda baca disini topik pembicaraan bisa saja ngglambyar alias melenceng dari topik, Si Amin mengemukaan topik tentang A sementara si Acong menjawab dengan A+B lalu si Atun menambahinya dengan A+B+C. Selain itu beberapa orang mempunyai ciri khas bahasa Malangan yaitu bahasa Jawa yang dibalik-balik, saya tuliskan apa adanya agar lebih jelas kepribadiannya. Temukan sendiri kesesuaian topik mereka dengan profesi Anda. Disini ada topik mulai dari pertanahan, per-handphone-an, permakanan, permobilan sampai perutangan. Saya kira memang inilah miniatur alami dari masyarakat kita sehari-hari, hanya saja rasakan disana ada passion, duka cita, semangat, persahabatan, etika dan a lot of knowledge yang pasti membuat kita terharu dan tersenyum, mengangguk dan menggeleng. Terus terang bahan buku ini kebanyakan berasal dari surat berbalas antar mereka yang umum disebut mailing list. Saya sedikit mengeditnya untuk berusaha menyajikannya dalam suasana obrolan hidup sehari-hari supaya lebih enak dibaca. Sengaja pula saya susun berdasarkan urut waktu karena bila Anda teliti membacanya maka Anda akan lebih terinspirasi dengan perjalanan perjuangan mereka yang masih terus berjalan hingga detik ini. Disana ada Sam Donnie yang berjuang mendapatkan ruko, ada pula Sam Tito berjuang mendirikan warnet atau Mbak Vivi yang berjuang dengan perjalanan warung cafenya dan masih banyak lagi yang lain. Beberapa topik ‘garing’ atau tak penting ikut pula tercantum disini yang menjelaskan betapa para pengusahapun juga tak selalu serius sekali. Mereka yang ada disini bukan (belum) lah milyuner, kebanyakan malah masih muda. Mereka masih berjuang menjadi sosok-sosok profil yang sekarang sudah menjadi legenda. Sama seperti kita kebanyakan. Mereka belum mempunyai apa-apa, yang mereka punyai adalah semangat membara untuk terus belajar dan terus belajar. Tapi mereka juga bukan orang-orang biasa, seperti Sam Ade adalah owner sebuah perusahaan IT beromzet sebelas digit, ada Sam Yopie pemilik perusahaan perangkat lab bahasa untuk lingkup nasional dan masih banyak yang lain. Namun sudahlah, kita sudahi menilai seseorang berdasarkan jumlah digit karena malang atau beruntung itu relatif, yang lebih asyik adalah memperhatikan bagaimana mereka berdiskusi, bernegosiasi, menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan. Anda tidak sedang membaca cerita sukses tapi yang lebih tepat adalah cerita proses sukses, mungkin saja 5 - 10 tahun lagi beberapa dari mereka akan Anda ikuti seminarnya atau malah tidak tahu nasibnya entah dimana. Malah merekalah yang sedang membaca Anda saat ini dalam keseharian. Mudah-mudahan buku sederhana ini menjadi salah satu alternatif dari sekian ratus ribu buku panduan suksas-sukses yang berisi puluhan aturan, dogma, stigma, kode rahasia dan undang-undang dasar dari para pendekar papan atas dunia perbisnisan. Akhirnya saya meminta maaf atas pemilihan judul yang agak berbau ‘propaganda’ dan istilah ‘mencuri dengar’ yang sebenarnya dilarang itu dalam buku ini malah dipersilahkan karena sudah seijin dari yang berbicara. Silahkan merobek halaman kata pengantar ini karena tidak lagi penting karena yang lebih penting adalah membuka halaman selanjutnya, masuki Ruang Meeting mereka, dengarkan obrolan mereka, resapi, hayati lalu bertindaklah, take action!. Bila ada sesuatu informasi yang kurang jelas atau Anda membutuhkan jasa dan produk mereka, silahkan langsung menghubungi alamat kontak masing-masing yang profilnya ada di bagian belakang. Mereka sangat welcome untuk berbagi segala hal. Salam Rahmat!” Ame Abdee |
Sudah
lumrah dimana-mana bahwa kehidupan sosial seseorang akan dengan
sendirinya mengelompok sesuai dengan insting dan minatnya
masing-masing, radar dalam diri mereka secara alamiah mencari gelombang
frekwensi yang sama, begitu ‘klik’ maka segala sesuatu akan
dinikmatinya, begitu pula dengan TDA Ngalam ini, kesamaan tujuan,
keinginan, cara pandang, etika dan naluri serta tempat secara sukarela
membentuk sebuah komunitas. Disini tidak ada pemimpin yang mengkomando,
tidak ada bawahan yang diperintah, namun aktifitas berjalan berdasarkan
kesadaran dan pengetahuan bersama yang terus menerus diasah dan
dipertajam setiap saat dengan menjaga sebaik-baik etika. Sungguh satu
komunitas yang amat patut di’trendy’kan. Apalagi komunitas ini
mempunyai sebuah tagline yang selalu diusung kemana-mana yaitu ‘Bersama
Menebar Rahmat’. Maka tak heran bila komunitas yang awalnya diprakarsai
oleh beberapa orang di Jakarta sekitar 2 tahun lalu ini sekarang telah
menyebar hampir ke seluruh Indonesia dengan ribuan anggota. Mereka
kemudian bersepakat membentuk koloni-koloni kecil sesuai dengan tema
atau pertimbangan geografis, maka sekarang ini ada TDA IT, TDA Garment,
TDA Property dan ada pula TDA Surabaya, TDA Solo dan sebagainya.
